Jakarta, Jurnas.com - Perdebatan mengenai hubungan antara keagamaan dan semangat kebangsaan (nasionalisme) kerap kali menjadi topik yang hangat diperbincangkan.
Sebagian orang menganggap bahwa rasa cinta terhadap negeri tanah kelahiran adalah hal yang bersifat sekuler.
Padahal, jika ditelusuri lebih dalam melalui ikhtiar ulama dan dalil-dalil Al-Qur`an serta Hadis, cinta tanah air (Hubbul Wathan) memiliki kedudukan yang sangat mulia dan berakar kuat dalam ajaran Islam.
Dilansir dari laman MUI, Nabi Muhammad SAW. sendiri, dalam beberapa hadits, terekam dengan cukup detail sangat mencintai tanah kelahirannya, Tanah Airnya, kota Makkah.
Misalnya hadits riwayat Imam Tirmidzi :
عَن٠ابْن٠عَبَّاس٠، قَالَ : قَالَ رَسÙول٠اللَّه٠صَلَّى اللَّه٠عَلَيْه٠وَسَلَّمَ Ù„Ùمَكَّةَ : ” مَا أَطْيَبَك٠مÙنْ Ø¨ÙŽÙ„ÙŽØ¯ÙØŒ ÙˆÙŽØ£ÙŽØÙŽØ¨ÙŽÙ‘ك٠إÙÙ„ÙŽÙŠÙŽÙ‘ØŒ وَلَوْلَا Ø£ÙŽÙ†ÙŽÙ‘ قَوْمÙÙŠ أَخْرَجÙونÙÙŠ Ù…Ùنْك٠مَا سَكَنْت٠غَيْرَك٠“
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata, “‘Rasulullah SAW. bersabda kepada kota Makkah, ‘Sungguh dirimu (kota Makkah) negeri yang amat indah, dan paling aku cintai, jikalau masyarakat Makkah tidak mengusirku, niscaya aku tidak akan tinggal di tempat lain selain dirimu (kota Makkah)`” (HR. Tirmidzi no. 3926)
Tidak hanya kecintaan Nabi terhadap kota Makkah, Nabi juga sangat mencintai kota Madinah. Tempat di mana dakwah Nabi terbilang sangat sukses. Nabi tinggal di kota ini sekitar 10 tahun, kota ini juga menjadi tempat peristirahatan terakhir Nabi SAW.
عَنْ أَنَس٠رَضÙÙŠÙŽ Ø§Ù„Ù„ÙŽÙ‘Ù‡Ù Ø¹ÙŽÙ†Ù’Ù‡ÙØŒ Ø£ÙŽÙ†ÙŽÙ‘ النَّبÙÙŠÙŽÙ‘ صَلَّى اللَّه٠عَلَيْه٠وَسَلَّمَ كَانَ Ø¥ÙØ°ÙŽØ§ قَدÙÙ…ÙŽ Ù…Ùنْ سَÙَر٠Ùَنَظَرَ Ø¥ÙÙ„ÙŽÙ‰ Ø¬ÙØ¯Ùرَات٠الْمَدÙينَة٠أَوْضَعَ رَاØÙÙ„ÙŽØªÙŽÙ‡ÙØŒ ÙˆÙŽØ¥Ùنْ كَانَ عَلَى دَابَّة٠ØÙŽØ±ÙŽÙ‘كَهَا Ù…Ùنْ ØÙبÙّهَا.
Dari Anas ra. berkata; Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila pulang dari bepergian dan melihat dataran tinggi kota Madinah, Beliau mempercepat jalan unta Beliau dan bila menunggang hewan lain Beliau memacunya karena kecintaannya (kepada Madinah). (H.R. Bukhari no. 1886)



