Jakarta, Jurnas.com - Khusyuk merupakan salah satu sifat yang dianjurkan dimiliki setiap Muslim, baik saat beribadah maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Orang yang khusyuk tidak hanya terlihat dari kekhusyukannya saat salat, tetapi juga tercermin dalam sikap dan perilakunya.
Rasulullah SAW bersabda:
أَمَّا Ø¹ÙŽÙ„ÙŽØ§Ù…ÙŽØ©Ù Ø§Ù„Ù’Ø®ÙŽØ§Ø´ÙØ¹Ù Ùَأَرْبَعَةٌ Ù…ÙØ±ÙŽØ§Ù‚َبَة٠اللَّه٠ÙÙÙŠ Ø§Ù„Ø³Ù‘ÙØ±Ù‘Ù ÙˆÙŽ الْعَلَانÙيَة٠وَ رÙÙƒÙوب٠الْجَمÙيل٠وَ التَّÙÙŽÙƒÙ‘ÙØ±Ù Ù„Ùيَوْم٠الْقÙيَامَة٠وَ الْمÙنَاجَاة٠لÙلَّهÙ
Artinya: "Adapun tanda orang yang khusyu` ada empat: selalu merasa diawasi Allah saat sendiri dan di depan umum, melakukan kebaikan, merenungkan Hari Kiamat, dan bermunajat kepada Allah." (Bihar al-Anwar, Jilid 1, hlm. 120).
Hadis ini menjelaskan bahwa khusyuk bukan sekadar keadaan hati ketika beribadah.
Seorang Muslim yang khusyuk akan senantiasa menjaga perilakunya karena merasa diawasi Allah SWT, gemar berbuat baik, mengingat kehidupan akhirat, serta memperbanyak doa dan munajat kepada-Nya.
Pesan Rasulullah SAW tersebut menjadi pengingat bahwa kekhusyukan sejati tercermin dalam hubungan yang baik dengan Allah SWT sekaligus tercermin dalam akhlak mulia yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.



