Jakarta, Jurnas.com - Korupsi, suap, dan penyalahgunaan wewenang bukan hanya bentuk kejahatan hukum dan ekonomi yang merugikan rakyat, melainkan juga dosa besar yang diancam dengan hukuman berat di akhirat.
Dalam pandangan Islam, korupsi tergolong dalam tindakan ghulul (pengkhianatan/penggelapan harta) dan memakan harta secara batil (akl al-mal bil bathil).
Al-Qur’an secara tegas telah memberikan peringatan keras kepada siapa saja yang mengambil hak orang lain atau memakan uang rakyat yang bukan menjadi haknya.
Berikut ini tiga ayat Al-Qur’an yang menjadi peringatan bagi para pelaku korupsi.
1. Surah Al-Baqarah Ayat 188: Larangan Memakan Harta Batil dan Menyuap
Ayat ini secara eksplisit melarang praktik korupsi, suap (risywah), dan upaya merebut harta publik atau milik orang lain dengan memanfaatkan celah hukum atau menyuap para pejabat/hakim.
وَلَا تَأْكÙÙ„Ùوْٓا اَمْوَالَكÙمْ بَيْنَكÙمْ Ø¨ÙØ§Ù„ْبَاطÙÙ„Ù ÙˆÙŽØªÙØ¯Ù’Ù„Ùوْا بÙهَآ اÙÙ„ÙŽÙ‰ الْØÙÙƒÙ‘ÙŽØ§Ù…Ù Ù„ÙØªÙŽØ£Ù’ÙƒÙÙ„Ùوْا ÙَرÙيْقًا مّÙنْ Ø§ÙŽÙ…Ù’ÙˆÙŽØ§Ù„Ù Ø§Ù„Ù†Ù‘ÙŽØ§Ø³Ù Ø¨ÙØ§Ù„Ù’Ø§ÙØ«Ù’م٠وَاَنْتÙمْ تَعْلَمÙوْنَ
WalÄ ta`kulÅ« amwÄlakum bainakum bil-bÄá¹ili wa tudlÅ« bihÄ ilal-ḥukkÄmi lita`kulÅ« farÄ«qam min amwÄlin-nÄsi bil-iṡmi wa antum ta`lamÅ«n.
"Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan dosa, padahal kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 188).
2. Surah Ali `Imran Ayat 161: Ancaman Membawa Harta Korupsi pada Hari Kiamat
Dalam tafsir para ulama, istilah ghulul dalam ayat ini merujuk pada tindakan mengambil atau menggelapkan harta rampasan perang/harta negara secara sembunyi-sembunyi.
Ayat ini menegaskan bahwa setiap harta hasil korupsi akan dikalungkan dan dibawa oleh pelakunya pada hari pembalasan kelak.
وَمَا كَانَ Ù„ÙنَبÙيّ٠اَنْ يَّغÙلَّ Û— وَمَنْ يَّغْلÙلْ يَأْت٠بÙمَا غَلَّ يَوْمَ الْقÙيٰمَة٠ۚ Ø«Ùمَّ تÙÙˆÙŽÙّٰى ÙƒÙلّ٠نَÙْس٠مَّا كَسَبَتْ ÙˆÙŽÙ‡Ùمْ لَا ÙŠÙØ¸Ù’Ù„ÙŽÙ…Ùوْنَ
Wa mÄ kÄna linabiyyin ay yagul(la), wa may yaglul ya`ti bimÄ galla yaumal-qiyÄmah(ti), ṡumma tuwaffÄ kullu nafsim mÄ kasabat wa hum lÄ yuẓlamÅ«n.
"Dan tidak mungkin seorang nabi berkhianat (menggelapkan harta). Barangsiapa berkhianat (menggelapkan/mengorupsi sesuatu), niscaya pada hari Kiamat ia akan datang membawa apa yang digelapkannya itu. Kemudian setiap orang akan diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya, dan mereka tidak dizalimi." (QS. Ali `Imran: 161).
3. Surah An-Nisa` Ayat 29: Larangan Merampas Harta Orang Lain Secara Zalim
Ayat ini menekankan pentingnya kejujuran dan kerelaan (an tarÄá¸im minkum) dalam bertransaksi maupun mengelola keuangan. Mengambil kekayaan atau harta publik melalui jalan korupsi dianggap sebagai bentuk kezaliman mendasar yang dapat membinasakan diri sendiri.
يٰٓاَيّÙهَا الَّذÙيْنَ اٰمَنÙوْا لَا تَأْكÙÙ„Ùوْٓا اَمْوَالَكÙمْ بَيْنَكÙمْ Ø¨ÙØ§Ù„ْبَاطÙل٠اÙلَّآ اَنْ تَكÙوْنَ ØªÙØ¬ÙŽØ§Ø±ÙŽØ©Ù‹ عَنْ تَرَاض٠مّÙنْكÙمْ Û— وَلَا تَقْتÙÙ„Ùوْٓا اَنْÙÙØ³ÙŽÙƒÙمْ Û— اÙنَّ اللّٰهَ كَانَ بÙÙƒÙمْ رَØÙيْمًا
YÄ ayyuhallażīna ÄmanÅ« lÄ ta`kulÅ« amwÄlakum bainakum bil-bÄá¹ili illÄ an takÅ«na tijÄratan `an tarÄá¸im minkum, wa lÄ taqtulÅ« anfusakum, innallÄha kÄna bikum raḥīmÄ.
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu." (QS. An-Nisa`: 29).



